Pages

Senin, 06 Januari 2014

Lima penyebab Indonesia sulit jadi negara maju versi LIPI

Merdeka.com - Pemerintah Indonesia optimis bisa keluar dari jeratan negara berpendapatan menengah (middle income trap). Selama ini, istilah itu disematkan pada bangsa yang mencapai tahapan sejahtera, tapi akhirnya gagal naik kelas jadi negara maju.
Ukuran yang digunakan adalah Produk Domestik Bruto (PDB) per kapita. Saat ini, PDB per kapita Indonesia berada di kisaran USD 3.592-4.810. Sesuai analisis Lembaga Kerja Sama Ekonomi dan Pembangunan (OECD), negara ini sudah masuk kategori lower middle income. Sesuai teori, momen 42 tahun mendatang akan jadi tantangan pemerintah.
Jika sumber daya dikelola baik, seharusnya Indonesia dalam setengah abad sudah mencapai taraf negara maju. Kisah sukses itu dapat ditengok dari Korea Selatan. Negeri Ginseng mencapai posisinya sekarang sebagai raksasa ekonomi dalam waktu 15 tahun.
Dari simulasi OECD, Indonesia berpeluang naik kelas jadi negara berpendapatan tinggi pada 2042. Pada masa itu, pendapatan rata-rata penduduk seharusnya Rp 132 juta per tahun.
Pemerintah percaya diri membuktikan simulasi OECD. Ketika membuka seminar di Bali pertengahan bulan lalu, Menteri Keuangan Chatib Basri yakin, Indonesia bisa menghasilkan solusi atas persoalan middle income trap.
"Kita harus menekankan peran inovasi dan teknologi, untuk melahirkan keunggulan komparatif yang baik," kata Chatib.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Hatta Rajasa lebih optimis lagi. Dia mengklaim sudah menyiapkan tiga langkah, agar jebakan negara berpendapatan menengah bisa dihindari. Pertama habis-habisan membangun infrastruktur. Disusul menciptakan kemandirian pangan, dan terakhir, memberikan proteksi pada masyarakat miskin, misalnya, kredit usaha rakyat (KUR).
Dari uraiannya, Hatta mengaku menitikberatkan pada infrastruktur. "Infrastruktur adalah kunci dari pertumbuhan ekonomi yang hebat sehingga tidak terjebak ke dalam middle income trap," ujarnya.
Namun, optimisme pemerintah dikoreksi oleh Pusat Peneliti Ekonomi (P2E) Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI). Dari hasil analisis ilmiah, pekerjaan rumah pemerintah menyediakan pondasi perekonomian masih bejibun.
Peneliti LIPI Latief Adam, bahkan lantang menyebut Indonesia sulit jadi negara maju. "Sulit keluar dari middle income trap. Kita sangat sulit beranjak jadi negara maju," ujarnya dalam seminar di Kantor Pusat LIPI, Jakarta, Senin (23/12).
Apa saja alasan peneliti LIPI tidak seoptimis pemerintah dalam menyongsong peluang jadi negara maju? Berikut rangkuman lima alasan utamanya oleh merdeka.com:

1. Ekonomi tak tumbuh cepat setelah krisis

Merdeka.com - Indonesia selamat setelah luluh lantak pada krisis ekonomi 1997. Pada 2008, negara ini bahkan seakan tidak terdampak ketika Amerika dan Uni Eropa ambruk akibat krisis yang dipicu kredit macet perumahan. Pemerintah kerap membanggakan fakta itu, apalagi, selama beberapa triwulan, ekonomi Indonesia konsisten tumbuh nomor dua selepas China
Tapi, catatan diberikan oleh Latief Adam dari LIPI menyatakan, perekonomian Indonesia memang stabil selama beberapa kali krisis, utamanya 2008. Tapi, pertumbuhannya mentok selalu di bawah potensi yang sesungguhnya.
"Pemerintah seolah-olah menyebut ekonomi kita tahan gejolak perekonomian global. Boleh jadi stabil tapi stabil tingkat rendah. Dibandingkan dengan Singapura kena krisis dan setelah krisis tumbuh mereka lebih jauh tinggi. Kita usai krisis tumbuhnya tidak jauh beda misalnya 4 persen ke 6 persen," urainya.

2. Ekonomi terlalu bergantung pasar modal

Merdeka.com - Indonesia susah keluar dari negara maju, menurut Latief disebabkan faktor kurang bervariasinya sumber penggerak perekonomian Indonesia.?
Rasio ekspor-impor terhadap Pendapatan Domestik Bruto (PDB) masih sangat kurang, begitu juga dengan investasi. Pergerakan ekonomi Indonesia saat ini hanya didorong dari pasar modal.
"Kita ini ekonomi stabil rendah karena perekonomian kita kurang gaul. Ini juga karena institusi keuangan manfaatnya tidak terlalu optimal mendukung ekonomi berkualitas," ujar Latief.

3. Mayoritas pekerja lulusan SD

Merdeka.com - Latief Adam menyebut kualitas tenaga kerja Indonesia untuk menunjang pertumbuhan perekonomian masih sangat kurang. Komposisi tenaga kerja Indonesia didominasi oleh pekerja lulusan Sekolah Dasar (SD).
Menurut Latief, keadaan seperti ini hanya menjadi beban bagi pemerintah untuk mengejar pertumbuhan. Selaiknya, penduduk adalah penyokong pertumbuhan ekonomi yang menjadi aset bangsa, dengan porsi seimbang antara tenaga kerja dan pemberi kerja.
"Kita lebih tinggi lulusan SD. Banyak penduduk kita beban pembangunan dibandingkan dengan perannya sebagai aset. Dalam ekonomi harusnya penduduk itu ada 3 peran penting sebagai produsen, konsumen, pembayar pajak," kata Latief

4. Industri dalam negeri lemah

Merdeka.com - Lemahnya struktur industri dalam negeri juga dicatat LIPI jadi alasan Indonesia bakal sulit lepas dari jeratan middle income trap. Sampai sekarang, industri nasional sangat tergantung barang impor, untuk memenuhi bahan baku maupun bahan penolong.
Akibat kondisi tersebut, pelemahan rupiah yang sempat terjadi sangat memukul pelaku usaha di Tanah Air. Sebab, biaya produksi dalam waktu singkat langsung meningkat. Alhasil, daya saing industri dalam negeri sangat timpang dibandingkan pesaing di negara lain.
"Kita sangat tergantung barang impor. 90 persen impor kita itu untuk bahan baku dan barang modal. Sektor industri menjerit jika depresiasi Rupiah dan inflasi. Ini menambah beban produksi. Cost of doing business mengalami peningkatan," kata Peneliti P2E LIPI Latief Adam.

5. Belum punya ekspor unggulan

Merdeka.com - Amerika Serikat bisa memamerkan hampir semua produk konsumsi, sebagai produk unggulannya. Jepang punya otomotif dan teknologi informasi. Korea Selatan, selain mengikuti jejak Jepang, kini juga dikenal lantaran komoditas ekonomi kreatif misalnya film dan musik.
Apa produk unggulan Indonesia, itu yang jadi pertanyaan Latief Adam. Sampai sekarang, pemerintah tidak fokus mencari produk yang bisa digenjot untuk merambah pasar internasional.
Diakuinya, salah satu yang menonjol adalah tekstil, termasuk produk-produk busana muslim. Namun, itupun belum digarap serius sampai sekarang. Indikatornya adalah tak ada rencana jangka panjang dalam membentuk rantai distribusi sampai pengembangan merek.
"Grand strategi kita belum punya sektor unggulan. Pewarna tekstil saja kita masih impor dan ini belum didefinisikan dengan jelas apa itu sektor unggulan," kata anggota LIPI ini.

http://www.merdeka.com/uang/lima-penyebab-indonesia-sulit-jadi-negara-maju-versi-lipi/belum-punya-ekspor-unggulan.html

 komentar :
menurut saya, Pemerintah Indonesia sering sekali membanggakan stabilnya perekonomian Indonesia dalam menghadapi gejolak perekonomian dunia. perekonomian Indonesia hanya stabil di tingkat rendah. Ada atau tidaknya krisis global perekonomian Indonesia masih tetap tumbuh rendah. jika pemerintah terus membiarkan kondisi seperti ini terus berlanjut maka Indonesia akan sangat sulit keluar dari jebakan kelas menengah atau middle income trap. Hal ini berdampak pasti pada sulitnya Indonesia bergerak jadi negara maju.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar