Pages

Jumat, 01 November 2013

8. Dahlan Puji Kinerja Bank BUMN

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Menteri BUMN Dahlan Iskan memuji bank- bank milik pemerintah yang mampu meningkatkan kinerja keuangan di tengah gejolak ekonomi global. "Saya agak surprise, dengan gejolak ekonomi dan situasi global seperti sekarang ini kinerja Bank BUMN cukup baik dan mampu keluar dari tekanan itu," kata Dahlan, usai menggelar Rapat Pimpinan Kementerian BUMN, di Gedung PT Perikanan Nusantara (Persero), Jakarta, Kamis (31/10).

Menurut Dahlan, pencapaian kinerja Bank BUMN tersebut seharusnya bisa lebih tinggi lagi jika kondisi ekonomi dalam situasi normal. Menurut catatan, empat Bank BUMN, Bank Mandiri, Bank BRI, Bank BNI dan BTN pada periode September 2013 membukukan laba dengan kenaikan signifikan. 

Bank Mandiri mencetak laba bersih Rp 12,8 triliun, melonjak 15,1 persen dibanding September 2012 sebesar Rp 11,1 triliun. Kinerja positif Bank BUMN terbesar tersebut didorong antara lain pertumbuhan penyaluran kredit di semua segmen bisnis yang mencapai Rp 450,8 triliun.

Pada saat yang bersamaan, hingga September 2013 Bank BRI membukukan laba bersih Rp 15,2 triliun, naik 17,01 persen dari periode sama tahun 2012. Direktur Keuangan BRI, Ahmad Baiquni mengatakan pencapaian laba bersih BRI merupakan hal positif di tengah kondisi makro ekonomi global dan domestik yang kurang kondusif yang tercermin pada tren kenaikan suku bunga dan inflasi. Solidnya kinerja BRI itu juga terlihat dari pencapaian pendapatan bunga bersih sebesar Rp 30,30 triliun atau naik 16,6 persen.

Selanjutnya, Bank BNI membukukan laba bersih Rp 6,54 triliun, tumbuh 29,8 persen dibandingkan periode yang sama 2012 sebesar Rp 5,04 triliun. "Laba bersih itu tercapai karena ekspansi kredit yang terus tumbuh, dan pengelolaan aset yang semakin prudent serta efisien, sehingga pendapatan operasional naik secara signifikan," kata Direktur Utama BNI Gatot M Suwondo.

Selanjutnya, PT Bank Tabungan Negara membukukan laba bersih kuartal ketiga 2013 sebesar Rp 1,06 triliun, tumbuh 3,92 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp 1,02 triliun. Perolehan laba tersebut didorong pertumbuhan kredit dan pembiayaan yang disalurkan sebesar Rp 96,53 triliun dan pertumbuhan dana pihak ketiga sebesar Rp 88,54 triliun.

"Meningkatnya jumlah kredit dan pembiayaan serta pengelolaan DPK pada triwulan III 2013 membentuk laba bersih BTN menjadi sebesar Rp 1,06 triliun," ujar Dirut Bank BTN Maryono.

Sumber :
http://www.republika.co.id/berita/ekonomi/keuangan/13/10/31/mvio4d-dahlan-puji-kinerja-bank-bumn

Analisis :
Perbankan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) harus meningkatkan efisiensi agar dapat bersaing dengan bank swasta di Indonesia. Persaingan bisnis perbankan semakin ketat dalam meningkatkan laba dan pendapatan operasional di tengah situasi ekonomi yang sedang melambat.

Penilaian kinerja suatu bank adalah salah satu cara untuk melihat efisiensi yang berguna bagi manajemen bank, pembuat kebijakan, investor dan auditor. Bagi manajemen bank, menilai kinerja tak hanya membantu pimpinan bank tetapi juga memahami efektivitas. Bagi pembuat kebijakan, penilaian kinerja membantu membangun lingkungan yang sehat pada dunia perbankan serta dalam merumuskan kebijakan baru. 

Sedangkan bagi investor, penilaian kinerja berfungsi untuk mengetahui seberapa baik kinerja bank sebelum mereka memutuskan untuk berinvestasi. Bagi auditor, hal tersebut memungkinkan auditor memberikan rekomendasi pada pimpinan bank mengenai keputusan finansial yang lebih baik
Kondisi perekonomian global dan domestik pun menjadi bagian yang harus diperhatikan untuk menilai keefisiensian suatu bank, Indonesia relatif kurang efisien dibandingkan negara lainnya di satu kawasan. Indikator efisiensi perbankan adalah rasio biaya operasional terhadap pendapatan operasional.

di Indonesia, bank-bank memiliki inovasi yang cukup tinggi dalam penghimpunan dana. "Masyarakat kita masih suka iming-iming bunga, hadiah, jadi kompetisinya ketat berebut dana, Hal tersebut mengakibatkan sulitnya menurunkan biaya dana sehingga membuat bunga kredit lebih tinggi dibanding negara lain.  Masih relatif tingginya BOPO di Indonesia, disebabkan oleh kondisi perbankan Indonesia dengan jumlah aset masih relatif kecil dan masih dalam tahap ekspansi. Pengembangan usaha pun masih memerlukan beban investasi yang relatif tinggi seperti IT, pembukaan kantor cabang baru dan produk baru. Selain itu, biaya tenaga kerja profesional pun masih tinggi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar