Pages

Kamis, 31 Oktober 2013

1. Ekonomi Indonesia 2012 Siap Lepas Landas

Direktur Financial Reform Institute (FRI) Dr. Ikhsan Modjo menilai, Indonesia saat ini jauh dari klaim mereka yang haus kekuasaan sebagai negara autopilot, sebab data dan fakta justru menunjukkan bahwa ekonomi Indonesia 2012 siap untuk lepas landas. Bahkan mencapai kondisi terbaiknya, termasuk peringkat kelayakan berinvestasi di Indonesia.
Dalam temu media di Warung Daun Cikini, Jakarta, Selasa (17/1), Ikhsan mengungkapkan sejumlah fakta dan data yang menunjukkan betapa bertolak belakangnya penilaian sejumlah pihak yang haus kekuasaan, bahwa seolah-olah Indonesia saat ini sebagai negara autopilot.
Angka kemiskinan misalnya, menurut pengamat ekonomi itu, sesuai data Badan Pusat Statistik (BPS) mengalami penurunan dalam 7 tahun terakhir, dari 36,1 juta orang atau 16,66% pada Februari 2004 menjadi 29,9 juta orang atau 12,36% pada September 2011.
“Angka BPS dan World Bank juga menunjukkan, bahwa pembangunan semakin merata. Dimana Indeks Kedalaman Kemiskinan turun dari 2,08 (Maret 2011) menjadi 2,05 (September 2011), dan Indeks Keparahan Kemiskinan turun dari 0,55 (Maret 2011) menjadi 0,53 (September 2011),” lanjut Ikhsan.
Tingkat pertumbuhan ekonomi 2011 sebesar 6,5%, jelas Ikhsan, juga merupakan yang tertinggi di /ASEAN. Sementara laju inflasi 3,79% menjadi yang terendah di Asia Pasifik. “Semua lembaga internasional memprediksikan ini akan terus bertahan dalam beberapa tahun ke depan,” terang Direktur Financial Reform Institute itu.
Masih ada fakta dan data lain yang ditunjukkan Ikhsan Mojo sebagai bukti membaiknya perekonomian Indonesia, seperti angka ekspor yang tumbuh dua kali lipat dari 70 miliar dollar AS (2004) menjadi 200 miliar dollar AS pada 2011. Rasio Hutang terhadap PDB (0,25%), Cadangan Devisa (110 miliar dollar AS), bunga dasar (6%), Defisit Anggaran (kurang dari 2% terhadap PDB), serta berbagai indikator makro lain yang juga menunjukkan kekuatan dan stabilitas ekonomi Indonesia.
Pendapatan Domestik Bruto (PDB) Indonesia yang mencapai 700 miliar dollar, lanjut pengamat ekonomi itu, bahkan kini telah menempati peringkat ke-16 terbesar di dunia. Sebuah peningkatkan secara dinamis yang menyebabkan Indonesia masuk dalam G-20 (negara-negara dengan volume ekonomi terbesar di dunia).
Demikian pula, setelah hampir 30 tahun, Indonesia kembali peringkat Investment Grade. Masuknya Indinesia dalam Investment Grade ini hampir pasti akan diiringi mengalirnya lebih banyak investasi ke dalam negeri.
“Pemerintahan di Era Orde Baru menghabiskan waktu 30 tahun untuk meraih capaian ini, sementara Pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) hanya butuh waktu 7 tahun,” tegas Ikhsan.
Ia juga mengingatkan, bahwa Pemerintahan SBY menghasilkan capaian-capaian ini dalam suasana politik kenegaraan yang demokrasi. Sementara Pemerintahan Orde Baru mencapaianya dalam suasana pemerintahan yang cenderung otoritarian.
Sengaja Dibuat Mispersepsi
Ikhsan Modjo menduga penilaian sejumlah orang yang berorientasi kekuasaan bahwa negara saat ini bak berjalan sendiri, negara autopilot, sengaja dibuat untuk memberikan mispersepsi kepada masyarakat.
“Statemen itu jelas salah, tidak berdasar dan sensasi yang provokatif dari mereka yang picik dan kebelet untuk berkuasa. Hingga menafikan sejumlah fakta,” tutur Ikhsan.
Ikhsan memperkirakan, beberapa program pemerintah di bidang ekonomi pada tahun ini seperti program Master Plan Percepatan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI) akan menurunkan angka pengangguran secara signifikan melalui pembangunan infrastruktur, dengan penyediaan perluasan lapangan pekerjaan.
Ia mengimbau para elit negeri ini agar memiliki wisdom untuk generasi berikutnya, dengan menanam benih kebaikan, bukan melemahkan negeri tapi justru sebaliknya menguatkan negeri untuk tumbuh dan mencapai masa depan yang gemilang.(ES) (Dikutip dari: http://www.setkab.go.id/berita-3479-ekonomi-indonesia-2012-siap-lepas-landas.html)
Analisis:
Dalam artikel yang saya kutip diatas, disebutkan beberapa prestasi yang dicapai perekonomian Indonesia, seperti:
- Angka kemiskinan yang menurun. Pada Februari 2004 angka kemiskinan berada di 36,1 juta jiwa atau 16.6%, sedangkan pada September 2011 angka kemiskinan menurun di angka 29,9 juta jiwa atau di 12.36%.
- Pembangunan. Indeks Kedalaman Kemiskinan yang pada maret 2011 berada di angka 2.08 sedangkan pada September 2011 menurun di angka 2.05. berbanding lurus degan indeks kedalaman kemiskinan, Indeks Keparahan Kemiskinan juga mengalami penurunan yang semula berada di angka 0.55 pada Maret 2011, menjadi 0.53 pada September 2011.
- Tingkat pertumbuhan ekonomi Indonesia yang mencapai 6.5% menjadi yang tertinggi di ASEAN.
- Laju Inflasi Indonesia yang berada di angka 3.79% juga menyabet sebagai laju inflasi terendah di Asia Pasifik.
- Masuknya Indonesia kembali dalam peringkat Investment Grade juga membawa angin segar bagi perekonomian Indonesia.
Dari fakta-fakta yang telah saya ringkas diatas terlihat jelas memang kondisi perekonomian Indonesia dalam kondisi ‘segar bugar’, akan tetapi banyak yang terbutakan oleh angka-angka yang tertera di atas. Yang paling terlihat jelas timpang dengan kenyataannya adalah tingkat pertumbuhan ekonomi. Indonesia memang bisa dikatakan sebagai negara ASEAN yang memiliki tingkat pertubuhan ekonomi yang paling besar, tapi apakah itu bisa dijadikan cerminan kemakmuran dan kesejahteraan masyarakat? Tentu tidak. Karena jika kita mencoba lebih jeli lagi melihat di sela-sela kehidupan masyarakat, terlihat bahwa yang kaya semakin kaya dan yang miskin semakin miskin, pembangunan daerah satu yang luar biasa pesat, berbanding terbalik dengan pembangunan di daerah lain. Tentu hal-hal tadi menunjukkan bahwa pemerataan pertumbuhan ekonomi di Indonesia masih minim.
Kemudian masalah indonesia kembali masuk dalam peringkat Investment Grade setelah 30 tahun, itu memang akan membawa angin segar bagi Indonesia dan juga para penanam modal asing. Namun pertanyaannya siapkah Indonesia? Siapkah Indonesia mengatur dan meratakan arus investas ini sehingga tak merugikan siapapun secara significant? Mampukah Indonesia meratakan daya beli masyarakat?
Menurut saya, masih ada banyak PR yang menumpuk untuk diselesaikan pemerintah Indonesia, seperti:
- Berlakukan kebijakan yang dikeluarkan sebagaimana mestinya.
Karena banyak kebijakan yang dikeluarkan pemerintah justru tidak berdampak apa-apa karena kurangnya pengawasan dalam pelaksanaannya.
- Mengefisiensikan pembangunan daerah.
Pembangunan daerah menjadi hal yang sensitif karena tidak dapat dipungkiri bahwa satu daerah dapat merasa iri terhadap satu daerah lainnya karena pesatnya pembangunan daerah. Pembangunan daerah dilakukan harus berbanding lurus dengan kebutuhan daerah tersebut supaya biaya yang dikeluarkan tidak menjadi sia-sia. Pertanyaannya mampukah Indonesia memberdayakan daerah-daerah pelosok?
- Pemerataan indeks manusia.
Kualitas indeks manusia juga dibutuhkan dalam meningkatkan perekonomian indonesia. Semakin baik kualitas manusia maka semakin banyak manusia yang ahli dan mengabdikan diri kepada perubahan Indonesia, namun kenyataannya Indonesia masih minim dalam usaha peningkatan atau pemerataan indeks manusia, karena pendidikan di Indonesia pun sudah terkotori oleh politik.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar