Direktur Financial Reform Institute (FRI) Dr. Ikhsan Modjo menilai,
Indonesia saat ini jauh dari klaim mereka yang haus kekuasaan sebagai
negara autopilot, sebab data dan fakta justru menunjukkan bahwa ekonomi
Indonesia 2012 siap untuk lepas landas. Bahkan mencapai kondisi
terbaiknya, termasuk peringkat kelayakan berinvestasi di Indonesia.
Dalam temu media di Warung Daun Cikini, Jakarta, Selasa (17/1),
Ikhsan mengungkapkan sejumlah fakta dan data yang menunjukkan betapa
bertolak belakangnya penilaian sejumlah pihak yang haus kekuasaan, bahwa
seolah-olah Indonesia saat ini sebagai negara autopilot.
Angka kemiskinan misalnya, menurut pengamat ekonomi itu, sesuai data
Badan Pusat Statistik (BPS) mengalami penurunan dalam 7 tahun terakhir,
dari 36,1 juta orang atau 16,66% pada Februari 2004 menjadi 29,9 juta
orang atau 12,36% pada September 2011.
“Angka BPS dan World Bank juga menunjukkan, bahwa pembangunan semakin
merata. Dimana Indeks Kedalaman Kemiskinan turun dari 2,08 (Maret 2011)
menjadi 2,05 (September 2011), dan Indeks Keparahan Kemiskinan turun
dari 0,55 (Maret 2011) menjadi 0,53 (September 2011),” lanjut Ikhsan.
Tingkat pertumbuhan ekonomi 2011 sebesar 6,5%, jelas Ikhsan, juga
merupakan yang tertinggi di /ASEAN. Sementara laju inflasi 3,79% menjadi
yang terendah di Asia Pasifik. “Semua lembaga internasional
memprediksikan ini akan terus bertahan dalam beberapa tahun ke depan,”
terang Direktur Financial Reform Institute itu.
Masih ada fakta dan data lain yang ditunjukkan Ikhsan Mojo sebagai
bukti membaiknya perekonomian Indonesia, seperti angka ekspor yang
tumbuh dua kali lipat dari 70 miliar dollar AS (2004) menjadi 200 miliar
dollar AS pada 2011. Rasio Hutang terhadap PDB (0,25%), Cadangan Devisa
(110 miliar dollar AS), bunga dasar (6%), Defisit Anggaran (kurang dari
2% terhadap PDB), serta berbagai indikator makro lain yang juga
menunjukkan kekuatan dan stabilitas ekonomi Indonesia.
Pendapatan Domestik Bruto (PDB) Indonesia yang mencapai 700 miliar
dollar, lanjut pengamat ekonomi itu, bahkan kini telah menempati
peringkat ke-16 terbesar di dunia. Sebuah peningkatkan secara dinamis
yang menyebabkan Indonesia masuk dalam G-20 (negara-negara dengan volume
ekonomi terbesar di dunia).
Demikian pula, setelah hampir 30 tahun, Indonesia kembali peringkat
Investment Grade. Masuknya Indinesia dalam Investment Grade ini hampir
pasti akan diiringi mengalirnya lebih banyak investasi ke dalam negeri.
“Pemerintahan di Era Orde Baru menghabiskan waktu 30 tahun untuk
meraih capaian ini, sementara Pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono
(SBY) hanya butuh waktu 7 tahun,” tegas Ikhsan.
Ia juga mengingatkan, bahwa Pemerintahan SBY menghasilkan
capaian-capaian ini dalam suasana politik kenegaraan yang demokrasi.
Sementara Pemerintahan Orde Baru mencapaianya dalam suasana pemerintahan
yang cenderung otoritarian.
Sengaja Dibuat Mispersepsi
Ikhsan Modjo menduga penilaian sejumlah orang yang berorientasi
kekuasaan bahwa negara saat ini bak berjalan sendiri, negara autopilot,
sengaja dibuat untuk memberikan mispersepsi kepada masyarakat.
“Statemen itu jelas salah, tidak berdasar dan sensasi yang provokatif
dari mereka yang picik dan kebelet untuk berkuasa. Hingga menafikan
sejumlah fakta,” tutur Ikhsan.
Ikhsan memperkirakan, beberapa program pemerintah di bidang ekonomi
pada tahun ini seperti program Master Plan Percepatan Pembangunan
Ekonomi Indonesia (MP3EI) akan menurunkan angka pengangguran secara
signifikan melalui pembangunan infrastruktur, dengan penyediaan
perluasan lapangan pekerjaan.
Ia mengimbau para elit negeri ini agar memiliki wisdom untuk generasi
berikutnya, dengan menanam benih kebaikan, bukan melemahkan negeri tapi
justru sebaliknya menguatkan negeri untuk tumbuh dan mencapai masa
depan yang gemilang.(ES) (Dikutip dari: http://www.setkab.go.id/berita-3479-ekonomi-indonesia-2012-siap-lepas-landas.html)
Analisis:
Dalam artikel yang saya kutip diatas, disebutkan beberapa prestasi yang dicapai perekonomian Indonesia, seperti:
- Angka kemiskinan yang menurun. Pada Februari 2004 angka kemiskinan
berada di 36,1 juta jiwa atau 16.6%, sedangkan pada September 2011 angka
kemiskinan menurun di angka 29,9 juta jiwa atau di 12.36%.
- Pembangunan. Indeks Kedalaman Kemiskinan yang pada maret 2011
berada di angka 2.08 sedangkan pada September 2011 menurun di angka
2.05. berbanding lurus degan indeks kedalaman kemiskinan, Indeks
Keparahan Kemiskinan juga mengalami penurunan yang semula berada di
angka 0.55 pada Maret 2011, menjadi 0.53 pada September 2011.
- Tingkat pertumbuhan ekonomi Indonesia yang mencapai 6.5% menjadi yang tertinggi di ASEAN.
- Laju Inflasi Indonesia yang berada di angka 3.79% juga menyabet sebagai laju inflasi terendah di Asia Pasifik.
- Masuknya Indonesia kembali dalam peringkat Investment Grade juga membawa angin segar bagi perekonomian Indonesia.
Dari fakta-fakta yang telah saya ringkas diatas terlihat jelas memang
kondisi perekonomian Indonesia dalam kondisi ‘segar bugar’, akan tetapi
banyak yang terbutakan oleh angka-angka yang tertera di atas. Yang
paling terlihat jelas timpang dengan kenyataannya adalah tingkat
pertumbuhan ekonomi. Indonesia memang bisa dikatakan sebagai negara
ASEAN yang memiliki tingkat pertubuhan ekonomi yang paling besar, tapi
apakah itu bisa dijadikan cerminan kemakmuran dan kesejahteraan
masyarakat? Tentu tidak. Karena jika kita mencoba lebih jeli lagi
melihat di sela-sela kehidupan masyarakat, terlihat bahwa yang kaya
semakin kaya dan yang miskin semakin miskin, pembangunan daerah satu
yang luar biasa pesat, berbanding terbalik dengan pembangunan di daerah
lain. Tentu hal-hal tadi menunjukkan bahwa pemerataan pertumbuhan
ekonomi di Indonesia masih minim.
Kemudian masalah indonesia kembali masuk dalam peringkat Investment
Grade setelah 30 tahun, itu memang akan membawa angin segar bagi
Indonesia dan juga para penanam modal asing. Namun pertanyaannya siapkah
Indonesia? Siapkah Indonesia mengatur dan meratakan arus investas ini
sehingga tak merugikan siapapun secara significant? Mampukah Indonesia
meratakan daya beli masyarakat?
Menurut saya, masih ada banyak PR yang menumpuk untuk diselesaikan pemerintah Indonesia, seperti:
- Berlakukan kebijakan yang dikeluarkan sebagaimana mestinya.
Karena banyak kebijakan yang dikeluarkan pemerintah justru tidak
berdampak apa-apa karena kurangnya pengawasan dalam pelaksanaannya.
- Mengefisiensikan pembangunan daerah.
Pembangunan daerah menjadi hal yang sensitif karena tidak dapat
dipungkiri bahwa satu daerah dapat merasa iri terhadap satu daerah
lainnya karena pesatnya pembangunan daerah. Pembangunan daerah dilakukan
harus berbanding lurus dengan kebutuhan daerah tersebut supaya biaya
yang dikeluarkan tidak menjadi sia-sia. Pertanyaannya mampukah Indonesia
memberdayakan daerah-daerah pelosok?
- Pemerataan indeks manusia.
Kualitas indeks manusia juga dibutuhkan dalam meningkatkan
perekonomian indonesia. Semakin baik kualitas manusia maka semakin
banyak manusia yang ahli dan mengabdikan diri kepada perubahan
Indonesia, namun kenyataannya Indonesia masih minim dalam usaha
peningkatan atau pemerataan indeks manusia, karena pendidikan di
Indonesia pun sudah terkotori oleh politik.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar