Mungkin aku memang terlalu cepat untuk mudah menaruh hati pada sosokmu. Sosok yang belum begitu aku mengenalnya. Tapi yang terlihat padaku hanyalah semua kebaikan yang kau miliki. Tak ada sifat anehmu yang kau tunjukkan padaku hingga aku mampu mengatakan pada hatiku dan mulai memberanikan diri untuk menerimamu sebagai kekasihmu.
Detik demi detik,
menit demi menit,
hari demi hari dan bulan demi bulan kita lewati dengan sempurna. Tak ada
hal yang membuatku terluka karnamu. Tak kutemukan satu titikpun
kesalahan padamu. Karena
mungkin memang kamu yang mampu menjadi satu harapan untukku. Terlebih
ketika
aku merasakan berbagai kesulitan dalam hidupku, kau tetap bersamaku
mendampingiku. Merengkuhku dengan pelukanmu sekedar merasakan kehangatan
tubuhmu. Mencium pipiku untuk sekedar menghiburku. Tahukah kamu? Aku
bahagia
bersamamu.
Namun perlahan topengmu terbuka. Apa
yang selama ini ada dihadapanku bukanlah dirimu lagi. Bukanlah kamu yang
dahulu. Bukan sosok yang penuh kehangatan lagi, bukan sosok yang selalu
menyenangkanku lagi, bukan sosok yang mampu menjawab setiap harapku padaNYA. Jika
saja kamu tahu, aku tak ingin kebahagiaanku lenyap. Aku tak ingin kebahagiaan
ini hilang dan tergantikan oleh sedihku akan sifatmu. Apa yang salah denganmu? Dengan
hubungan kita? Aku mencoba menjadi diri yang kuat, sabar dan selalu mencoba
mengerti akan egomu. Namun tetap tak dapat membuatmu kembali seperti dulu.
Satu persatu masalah datang menerpa
kita. Membuat renggang jarak yang kita miliki. Membuat sifatmu terlihat dengan
jelas. Bahwa kamu hanyalah sosok yang penuh dengan keegoisan dan kemunafikan. Diam-diam
menusukku secara perlahan. Menghunus jantungku hingga hanya sakit dan luka yang
kini tersisa. Mengapa sayang? Apakah aku tak cukup baik untukmmu? Apakah memang
ini yang kamu inginkan? Berpisah denganku dan membuat kenangan buruk untukku kenang
sendiri. Bahkan saat-saat indah yang pernah kita lewati bersama dahulu bagaikan
angin lalu yang tak berarti lagi bagimu.
Tapi pernahkah tersirat padamu
soal bagaimana hidupku setelah kau putuskan untuk memilih berpisah denganku? Mungkin
hidupku bisa menjadi lebih bahagia, lebih dari ketika bersamamu. Tapi pernahkah
kamu memikirkan bagaimana sakitnya aku dengan caramu menyakitiku yang begitu
tak pernah kusangka itu? Menusukku dari belakang dan hanya wajah polosmu yang
kau tunjukkan padaku. Hanya wajah lugumu yang seolah mengharapkan aku untuk
percaya setiap ucapan dan patah kata yang kau keluarkan demi meyakinkan aku. Aku
tak bodoh sayang.
Aku telah mengetahui semua kemunafikan yang kau sembunyikan dariku. Aku telah menyimpan segala kesalahanmu dan bahkan aku tak mampu menyebutnya satu persatu karena memang hanya aku yang selalu memposisikan diriku untuk menjadi yang lebih baik untukmu, sedangkan kamu tak pernah sedikitpun berusaha untuk mengerti aku dan berusaha kembali seperti dulu.
Aku telah mengetahui semua kemunafikan yang kau sembunyikan dariku. Aku telah menyimpan segala kesalahanmu dan bahkan aku tak mampu menyebutnya satu persatu karena memang hanya aku yang selalu memposisikan diriku untuk menjadi yang lebih baik untukmu, sedangkan kamu tak pernah sedikitpun berusaha untuk mengerti aku dan berusaha kembali seperti dulu.
Kamu yang begitu tulus mencintai
aku, membimbingku dahulu. Kini berubah seketika menjadi begitu asing bagiku. Manusia
tak pernah merencanakan pertemuan, karena itu tugas Tuhan. Manusia hanya mampu
menerima, menjalani dan memaknai setiap hal yang telah terjadi. Menganggap segalanya hanya
kebetulan sebagai alasan untuk mengakhiri suatu hubungan. Begitupun dengan
kita. Aku hanya berharap yang terbaik bagimu.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar