Pages

Selasa, 11 Desember 2012

TOPENG KEMUNAFIKAN KEKASIHKU



Apakah memang kita tak ditakdirkan untuk selalu bersama? Engkau yang dahulu diam-diam selalu memperhatikan aku. Engkau yang selalu punya cara untuk menggoda dan menarik perhatianku. Engkau yang tak pernah bosan untuk sekedar mengingatkan aku untuk makan atau beribadah meskipun hanya lewat suaramu atau ketikanmu di pesan singkat untukku.

Mungkin aku memang terlalu cepat untuk mudah menaruh hati pada sosokmu. Sosok yang belum begitu aku mengenalnya. Tapi yang terlihat padaku hanyalah semua kebaikan yang kau miliki. Tak ada sifat anehmu yang kau tunjukkan padaku hingga aku mampu mengatakan pada hatiku dan mulai memberanikan diri untuk menerimamu sebagai kekasihmu.
 
Detik demi detik, menit demi menit, hari demi hari dan bulan demi bulan kita lewati dengan sempurna. Tak ada hal yang membuatku terluka karnamu. Tak kutemukan satu titikpun kesalahan padamu. Karena mungkin memang kamu yang mampu menjadi satu harapan untukku. Terlebih ketika aku merasakan berbagai kesulitan dalam hidupku, kau tetap bersamaku mendampingiku. Merengkuhku dengan pelukanmu sekedar merasakan kehangatan tubuhmu. Mencium pipiku untuk sekedar menghiburku. Tahukah kamu? Aku bahagia bersamamu.
Namun perlahan topengmu terbuka. Apa yang selama ini ada dihadapanku bukanlah dirimu lagi. Bukanlah kamu yang dahulu. Bukan sosok yang penuh kehangatan lagi, bukan sosok yang selalu menyenangkanku lagi, bukan sosok yang mampu menjawab setiap harapku padaNYA. Jika saja kamu tahu, aku tak ingin kebahagiaanku lenyap. Aku tak ingin kebahagiaan ini hilang dan tergantikan oleh sedihku akan sifatmu. Apa yang salah denganmu? Dengan hubungan kita? Aku mencoba menjadi diri yang kuat, sabar dan selalu mencoba mengerti akan egomu. Namun tetap tak dapat membuatmu kembali seperti dulu.
Satu persatu masalah datang menerpa kita. Membuat renggang jarak yang kita miliki. Membuat sifatmu terlihat dengan jelas. Bahwa kamu hanyalah sosok yang penuh dengan keegoisan dan kemunafikan. Diam-diam menusukku secara perlahan. Menghunus jantungku hingga hanya sakit dan luka yang kini tersisa. Mengapa sayang? Apakah aku tak cukup baik untukmmu? Apakah memang ini yang kamu inginkan? Berpisah denganku dan membuat kenangan buruk untukku kenang sendiri. Bahkan saat-saat indah yang pernah kita lewati bersama dahulu bagaikan angin lalu yang tak berarti lagi bagimu.
Tapi pernahkah tersirat padamu soal bagaimana hidupku setelah kau putuskan untuk memilih berpisah denganku? Mungkin hidupku bisa menjadi lebih bahagia, lebih dari ketika bersamamu. Tapi pernahkah kamu memikirkan bagaimana sakitnya aku dengan caramu menyakitiku yang begitu tak pernah kusangka itu? Menusukku dari belakang dan hanya wajah polosmu yang kau tunjukkan padaku. Hanya wajah lugumu yang seolah mengharapkan aku untuk percaya setiap ucapan dan patah kata yang kau keluarkan demi meyakinkan aku. Aku tak bodoh sayang.

 Aku telah mengetahui semua kemunafikan yang kau sembunyikan dariku. Aku telah menyimpan segala kesalahanmu dan bahkan aku tak mampu menyebutnya satu persatu karena memang hanya aku yang selalu memposisikan diriku untuk menjadi yang lebih baik untukmu, sedangkan kamu tak pernah sedikitpun berusaha untuk mengerti aku dan berusaha kembali seperti dulu.
Kamu yang begitu tulus mencintai aku, membimbingku dahulu. Kini berubah seketika menjadi begitu asing bagiku. Manusia tak pernah merencanakan pertemuan, karena itu tugas Tuhan. Manusia hanya mampu menerima, menjalani dan memaknai setiap hal yang telah terjadi. Menganggap segalanya hanya kebetulan sebagai alasan untuk mengakhiri suatu hubungan. Begitupun dengan kita. Aku hanya berharap yang terbaik bagimu.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar