Pages

Jumat, 16 Desember 2011

PENJAJA KUE SEMPRONG



Semalam saya keluar dari Ranch Market jam 8.30. 
Hujan deras. 
Petugas Ranch Market setengah berlari mendorong trolly berisi 
barang-barang belanjaan saya. Saya juga berlari-lari kecil menjajari 
langkahnya 
menuju mobil. Saya membukakan bagasi dan petugas memindahkan 
barang-barang belanjaan 
saya. 

Seorang penjaja kue semprong mendekati kami. 
Memang setahu saya banyak penjaja kue semprong disana menjajakan barang 
dagangannya dengan sedikit memaksa. Karena terlalu biasa saya tidak 
mengacuhkannya, 
apalagi di hujan deras seperti ini. Setelah memberikan tip saya masuk 
mobil, namun masih 
saya dengar ucapan penjaja kue semprong tersebut, "Bu, beli kue 
semprongnya untuk ongkos pulang ke 
Tangerang". Didalam mobil saya berpikir saya kasih uang saja karena 
penganan yang saya 
beli di supermarket sudah cukup banyak, bagaimana jika tidak ada yang 
menghabiskannya, nanti jatuhnya mubazir. 
Saya memang lebih suka dengan para penjaja kue seperti ini ketimbang 
pengemis. 
Pelajaran berharga yang pernah saya dapat dari mantan bos saya sembilan 
tahun lalu. 

Masih teringat ucapannya ketika itu kami berdiskusi di kantor. 
"Coba kalau ada penjaja makanan atau barang dan pengemis dilampu merah 
mana yang kamu berikan uang?" tanyanya. 
Belum sampai kami menjawab, ia berkata lagi "Pasti yang kamu berikan 
uang si pengemis itu dan 
penjaja makanan atau barang itu kamu acuhkan". 
Secara serempak kami mengiyakan. 
"Coba pikirkan lagi, si pengemis itu pemalas tidak bermoral, kenapa 
kita kasih uang, sementara si penjaja makanan ataupun 
barang punya harga diri, dan pastinya secara pribadi lebih baik dari si 
pengemis, lalu kenapa kita 
tidak membeli barang dagangan si penjaja makanan atau barang tersebut?" 
Teman saya nyeletuk, "Karena kita ngga butuh". 
Mantan bos saya bergumam, "Ya betul karena kita tidak butuh". 

Obrolan itu begitu singkat, tapi begitu mengena di hati saya. 
Pak Teddy Sutiman membuka mata hati saya untuk lebih bijaksana dalam 
melihat suatu persoalan, bukan hanya berpikir 
praktis saja. Dan sejak itu saya lebih memberi perhatian kepada para 
penjaja makanan atau barang di jalanan dibandingkan para pengemis. 

Penjaja jual kue semprong itu masih dengan setia menanti disisi mobil 
saya. 
Saya menghela nafas, bukan karena tidak rela berbagi rejeki tapi karena 
menyesali banyak sekali penganan yang sudah saya beli tadi. 
Akhirnya saya membuka kaca, "Pak, saya tidak mau beli kue semprongnya, 
tapi kalau bapak saya beri uang mau tidak?". 
Tidak dinyana penjaja kue semprong itu menggelengkan kepalanya dan 
pergi dengan cepatnya dari sisi mobil saya. 
Saya tersentak dan menutup kaca jendela, hujan mengguyur deras dan 
membanjiri sisi kaca dalam mobil saya karena 
berbicara dengan si penjaja kue semprong. 

Beberapa detik saya kehilangan daya ingat saya, karena tidak menyangka 
ucapan yang keluar dari penjaja kue semprong tadi. 
Sembilan tahun saya telah lebih memberi perhatian kepada para penjaja 
makanan ataupun barang dibanding pengemis. Sesekali 
jika saya tidak butuh barang mereka, selalu saya ucapkan kalimat tadi, 
dan hampir semuanya tidak 
pernah menolak pemberian saya. Baru kali ini ada yang menolaknya. Baru 
kali ini ... 

Hujan mengguyur makin deras dan saya masih terpaku di mobil, terbayang 
ucapannya "...untuk ongkos pulang ke Tangerang.." 
Sementara total nilai belanjaan saya tadi mungkin bisa untuk ongkos 
pulang Bapak penjaja kue semprong selama tiga bulan. 
Tersentak saya mencari-cari bayangan penjaja kue semprong ditengah 
kabut dari derasnya hujan, terlihat pikulannya ada di 
pinggir teras sebuah toko tutup. 
Penjajanya duduk dibawah dengan muka pasrah. 
Saya mundurkan mobil menuju kearahnya. 
Kembali saya buka kaca jendela sebelah kiri ditengah guyuran hujan dan 
menjerit, "Pak, memang harganya berapa ?". 
Ia menyebutkan sejumlah harga yang sangat murah. 
Akhirnya saya katakan, "Ya sudah deh beli satu". 
Dia mebawa kue semprong pesanan saya didalam plastik. 
Sampai di mobil, saya serahkan uang, dan dia bengong karena saya tidak 
menyerahkan uang pas. 
Saya tau dia pasti bingung memikirkan kembaliannya, tapi dengan cepat 
saya katakan, "Kembaliannya ambil buat Bapak saja". 
Dia bengong. "Ambil saja Pak, ini rejeki Bapak, memang hak Bapak". 
Dia meneguk ludah, sebelum sempat dia mengucapkan apa-apa saya langsung 
menutup kaca mobil dan pergi. 

Tiba-tiba air mata ini mengalir deras melebihi derasnya hujan diluar 
sana. 
Kalau Bapak itu tidak menerimanya, saya tidak tahu seberapa sakitnya 
hati saya, karena didalam rejeki saya ada hak mereka termasuk hak Bapak 
penjaja kue semprong itu. Tiap bulan memang selalu saya sisihkan buat 
mereka, tapi mengetahui bahwa saya telah memberikan betul-betul kepada 
orang yang 
berhak menerimanya, betul-betul kepada orang yang berhati mulia,dan 
betul-betul kepada orang yang membutuhkannya, betul-betul membuat saya 
merasa 
hidup saya begitu bermakna dan saya sangat bersyukur atas rahmat-Nya. 

Ditengah leher saya yang sakit sekali karena tercekat, saya berdoa 
kepada Allah agar Bapak penjaja kue semprong tersebut dan 
keluarganya diberikan rahmat, kemurahan rezeki dan kemudahan hidup oleh 
Allah. 
Dan saya bersyukur atas segala rahmat dan kemudahan hidup yang 
diberikan Allah kepada saya dan keluarga saya. 

Hujan masih deras mengguyur kaca mobil. 
Mudah-mudahan hujan cepat reda supaya bapak penjaja kue semprong tadi 
bisa pulang tanpa kehujanan

Tidak ada komentar:

Posting Komentar